Beranda > berita > Suami Gauli Istri di Hutan Dipenjara, Shock Therapy Bagi Lelaki Kasar

Suami Gauli Istri di Hutan Dipenjara, Shock Therapy Bagi Lelaki Kasar


Jakarta Mahkamah Agung (MA) tetap menghukum Hari Ade Purwanto (29) yang mengajak istrinya berhubungan badan di hutan Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur selama 15 bulan penjara. Hukuman ini mendapat dukungan para aktivis perempuan karena bisa membuat shock therapy bagi para suami yang berperilaku kasar terhadap pasangannya.ilustrasiilustrasi

“Saya pikir ini sebuah shock terapy bagi pelaku dan untuk memerbaiki bermacam nilai yang berkembang saat ini. Hukuman 15 bulan penjara juga sanksi yang cukup setimpal,” kata Tri Wuryaningsih, sosiolog dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, saat berbincang dengan detikcom, Senin (10/9/2012).

Menurut Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Penangananan Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT PKBGA) ini, pertimbangan MA dengan mempertimbangkan UU Perlindungan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (P-KDRT) sudah tepat. Dalam bahasa akademis, hal itu disebut ‘pemerkosaan dalam rumah tagga’.

“Putusan ini tepat yaitu istri mempunyai jaminan dalam hubungan seksual mendapat perilaku yang aman,” beber Tri.

Meskipun istilah ‘pemerkosaan dalam rumah tangga’ lahir dari negara-negara Barat, tetapi seiring dengan hadirnya UU P-KDRT maka hal tersebut sudah bisa diterima masyarakat Indonesia. Dampaknya para suami tidak seenaknya memaksa istri melakukan hubungan badan. Istri bisa menolak jika sedang berhalangan.

“Dulu kita pernah menerima pengaduan serupa tetapi istri menarik lagi aduannya,” papar Tri.

Seperti diketahui, Hari Ade Purwanto menggauli istrinya di tengah hutan. Dia beralasan hal tersebut sebagai variasi hubungan seksual. Dalam kejadian tersebut istri melawan dan melaporkan ke polisi.

Pengadilan Negeri Pasuruan menghukum selama 1 tahun 3 bulan alias 15 bulan. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya dan MA.

“Menolak alasan terdakwa bahwa hubungan di hutan merupakan variasi dalam hubungan seksual,” demikian alasan putusan kasasi yang diketok oleh ketua majelis hakim Prof Komariah E Sapardjaja. Putusan yang diketok pada 14 Agustus 2012 lalu ini juga diadili oleh 2 hakim agung Suhadi dan Prof Salman Luthan.

(asp/vta)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s